Jumat, 19 November 2010

Hari Pertama

HARI PERTAMA ..

“Bismillah hirrohman nirrohim..” Ucap ku dan Ibu. Aku berpegangan pada   badan Ibu. Ibu selalu menyuruhku berpegangan erat pada Ibu bilamana sedang di bonceng naik motor. Motorpun melaju dengan kecepatan standar. Angin di pagi hari yang berbeda dengan angin di pagi hari lainnya. Sungguh berbeda, ku biarkan angin mengusap wajahku. Kurasakan sinar di pagi hari yang berbeda ini. Sungguh menyenangkan. Apalagi aku berada di belakang Ibu. Semakin hangat persaan ini.  :)
Akhirnya tiba juga. Lumayan jauh sih. Ibuku menurunkan tepat di depan TK “ANANDA”. Duh, perasaan ku berubah total. Rasa malu, takut, bingung dsb campur aduk. Aku menunggu ibu kembali dari parkiran. Ibu datang di sampingku. Aku langsung menyambar tangan Ibu. Ku pegang erat tangan Ibu. Seperti tak mau di tinggal. Begitu ANEH dan ASING. Kesan itu yang tampak muncul di benakku. Mana orang yang ku kenal ? tak ada. Ku lihat anak-anak yang lain pun sama sepertiku. Merasa Asing. Kucoba beradaptasi dengan tempat ini. Namun aku bingung harus memulai dari mana ? aku hanya berpegang tangan pada Ibu. Dan bersama Ibu aku berjalan menuju sebuah ruang.  :?
 Mungkin ini kelasku ? ku lihat kelas itu. Terdapat sebuah huruf. Huruf ‘A’. yaaahhhh.. benar huruf ‘A’. Aku pernah di ajari huruf, angka dan warna oleh Ibu. Dan aku paling hafal huruf ‘A’. karna huruf itu adalah huruf pertama. Tapi, aku masih belum lancer membaca. Tataupun menulis.
Aku tak tahu maksudku untuk bersekolah ? aku ingin sekolah hanya karna teman yang lain juga bersekolah. Yahh.. memang benar-benar alasan anak berumur lima tahun.  :?
Terdengar suara ‘Kecrek-kecrek’ . Oh, itu tandanya bel masuk. Aku bingung. Aku tak tahu harus bagaimana ? aku bergerak hanya mengikuti intrupsi guru. Aku disuruh baris oleh guru di depan kelas bersama anak-anak yang lainnya. Sedangkan ibuku dari jauh bersama yang lainnya memandangi tingkah laku buah hatinya. Seperti biasa ibu hanya tersenyum. Dan aku dapat lagi pemandangan itu. Pemandangan hangat dari sosok ibuku. Ibuku yang kucintai. Ku amati baik-baik, hanya ibuku yang diam tersenyum. Sedangkan ibu yang lainnya sibuk menyuruh buah hatinya mengikuti apa yang ibu guru lakukan. Aku terdiam memperhatikan ibu-ibu itu. Membisu aku melihatnya. Ku tatap satu persatu  anak-anaknya. Ada yang malu sepertiku, adapula yang hiper aktif.  :’0
Aku kembali melihat ibuku. Ibuku menunjuk pada Ibu guru, memberi tahu aku pun harus mengikuti seperti anak yang lain. ‘aku malu ibu..!’ ingin ku teriakan itu. Tapi, aku tak ingin mengecewakan. Huh, akhirnya aku mengikuti apa yang Ibu guru lakukan.
Dan terusss- teeruuusss.. hingga akhirnya aku dan teman yang lain harud masuk ke dalam kelas. :c
Aku pun masuk kedalam kelas. Ibuku menunggu diluar bersama ibu-ibu yang lain. Mungkin sedang ngobrol. Mungkin ? dan aku pun memandangi teman-teman kelasku. Aku sibuk melihat teman-teman. Dan ternyata, Noni ? hah ? aku sekelas dengan Noni ? Noni tau gak yah aku sekelas dengannya ? mungkin belum ? gurupun memulai mengawali pertemuan pertama ini. Dan aku mulai asik mengikuti semua kegiatan di dalam kelas. ;]


*    *    *    *


“Nah, sekarang kita istirahat dulu yaahh.. nanti kita main lagi..!” ucap Ibu guru semangat.

“Iyaaaa Ibuuuu Guuruuuuu..!!!!!!!!!!!” Serentak anak-anak menjawab. :D

Ibu guru pun keluar. Di susul anka-anak. Sebelum aku keluar, aku hampiri Noni yang duduknya tak jauh dari tempatku.

“Yuk kita istirahat ?” ajakku santai.

“Eh, Milaaa..? kok aku baru tahu ..?” Tanya nya Heran. :’?

“Iyaa.. tadi aku ngeliat kamu. Cuma aku malu buat datengin kamu. Jadi aku niatin pas istirahat aja aku datengin kamu.” Jawabku.
Dan akhirnya aku dan Noni keluar dari kelas untuk istirahat.

Asiiikk.. Ibu masih setia menunggu. Aku berlari menghampiri Ibu. Aku ceritakan semua yang ku alami tadi di depan kelas. Dan akupun menceritakan bahwa aku satu kelas dengan Noni. Yaahh.. Noni.. Noni.. heum.. Noni ..? Ya ampuuunn.. aku baru inget bahwa tadi aku mengajaknya istirahat bersama. Aku menghentikan kisah tadi. Ku lepaskan pandangan pada semua tempat. Mana Noni.. ? Terakhir kali dia disampingku. Aku terus mencari. Manaaa ..?  ‘Itu dia ketemuuu..’ ucap batinku. Aku yang berada di samping Ibu pun meminta izin untuk bermain bersama Noni. Ibu membolehkan. Aku tinggalkan Ibu. Aku berlari menuju tempat bermain dimana ada Noni. Ayunan. Aku menuju ayunan.  :)

“Eh, maaf ya tadi di tinggal..” ucapku mengkagetkan Noni yang bermain dengan teman lain.

“Iyaa..ya, gak apa-apa.” Jawabnya tenang.  :)



*    *    *    *


“Sekarang bersama-sama baca do’a” Ucap Ibu guru. Untungnya kelasku semua beragama islam. Jadi kami berdoa dengan hikmat. :)
Berdo’a selesai, kami bernyanyi sebelum pulang. Dan setelah selai bernyanyi. Kami PULAAAAANGGG..! heheheh.. Hari yang menyenangkan. Aku ajak Noni keluar kelas bersama. Ibuku terlihat lelah menunggu. Ku berikan senyumanku atas ucapan terima kasih telah menungguku. Aku dan Noni menghampiri Ibuku. Aku cium tangan tangan. Noni mengikuti. Ibu bertanya-tanya bagaimana tadi di dalam kelas. Kusambung cerita yang tadi belum ku selesaikan. Aku senang. Lalu ku pandang wajah Noni. Seperti yang lesu. Ku tanyakan keadaan dia. Dia menjawab tak apa-apa. Aku tak yakin dengan jawabannya. Aku yakin dia punya jawaban yang lain. Tapi dia tak ingin ada yang tahu.
“Ayo Mil, kita pulang. Sudah jam 11.30.” ajak ibu padaku.

“Iya buu.. eh eh eh.. Ibu Noni mana ?” Tanyaku.

“Ibuku lagi kerja. Ibuku kan dokter. Sibuk gitu deh..” Jawab Noni singkat. :|.
Tiba-Tiba..

“Neng Noni, hayu pulang.” Ajak seorang wanita. Tidak tua. Tidak muda. Sekitar 40-an umurnya. Badannya tak gemuk. Rambutnya panjang. Tapi tak lurus. Juga ga kerting.

“Tuh.. bi Eko. Aku pulang bareng Bi Eko. Daahh..” jelas Noni.

Sepintas mirip nama lelaki. tapi Bi Eko bukan lelaki. Dia yang mengurus Noni. Karna Ibunya sibuk di dokter gigi. Yah, aku mulai sadar mengapa Noni begitu suram.
Apakah dia ingin sepertiku dan Ibuku ? aku tak tahuu ??

“Milaa, Duluan yaaahh ..” teriak Noni.

“Oke Oke.. hati-hati yaa Noni ..!” balasku. :D

Ibuku menuju parkiran. Dan kembali dengan motornya. Tak kan ku beri tahu merknya . Biar di sensor aja ya. Aku pun pulang. Dan sempat melewati rumah Noni. Sepintas terfikir sesuatu. :”?
Lalu sampailah aku di depan rumah. Sebelum masuk pintu. Aku sempat bercakap-cakap dengan Ibu.
“Bu, besok aku pergi dan pulang bareng Noni ya. Jadi Ibu ga usah repot-repot antar  pergi pulang Mila.”  :)

“Hm.. boleh, berarti besok sebelum pergi jangan telat datangi rumah Noni. Atau sekarang janjian dulu sama Noni.” Pesan Ibu.

Aku seneng bias bersekolah. Tapi Hnadri.. dia merasa pintar. Dia ingin langsung masuk SD. Biarkan laahh.. bagaimana dia saja .  :|

Ayo Tebak

AYO TEBAK ..  ?

“Ibu.. jam berapa masuk ?” Tanyaku  pada ibu yang sedang sibuk.

“Sebentar yaa sayang, belum telat koo.. sabar yaa..” Jawab ibuku dengan lembut.

“Kapan buu ? sekarang jam berapa sih buu ?” Tanyaku Gemas .. :(

“Masih jam 07.00 . Mila masuknya jam 08.00. dekat ko sekolahnya.” Jawab Ibu menenangkan.

“Iya dehh buu..” Jawab ku lemas. :[

Aku pun mencari kaos kaki dan sepatu baru yang ayah belikan kemarin lusa.
‘kemana yaa’ bisik hatiku. Akupun berlari centil menuju kamar dengan mengangkat dikit rok seragamku. Bak Putri Cinderella yang berusaha menghindar dari pangeran, karna waktu sudah tak bisa mempertahankan pakaian indahnya itu. Tapi, yang membedakan aku dan Cinderella adalah dari cara kami berlari. Aku berlari dangan santai dan centil. Sedangkan Cinderella berlari dengan tergusuh-gusuh. :P
Dan sampailah aku di kamar. Akupun mulai mencari kotak coklat yang aku simpan di bawah kasurku. Aku mengintip. Tak ada yang kucari. Tak ada apapun. Aku kembali berlari centil menuju ruang makan. Akupun kembali mencari. Tak ada . Yang kutemukan hanyalah ayah ku yang sedang sarapan dengan menu favoritnya. Roti selai coklat dan minumnya kopi dengan sedikit gula. Ayah tak suka yang manis-manis. Kata ayah.. yang terlalu manis dan sering di konsumsi hanya membuat Ayah takut akan DIABETES. Hanyaaa.. ada dua jenis yang manis yang Ayah suka. Aku dan Ibuku. Ayah selalu mengatakn itu. :)

“Mil, cari apa ?” Tanya ayah yang sibuk melihat aksiku. Aku  menghiraukan pertanyaan Ayah. Aku tetap mencari. Dari sudut ke sudut. Tak adaa… kemanaaa ?? :0

“Mil, Ayah ada di ruangan ini.. halloo ?” Tanya Ayah sekali lagi.

Aku tetap mencari. Tetap acuh. Dan tetap mencari dengan rasa jengkel.

“Ayah tau dimana kotak coklat itu..” Ucap Ayah biasa :|.

Aku yang acuh langsung memusatkan semua pikiran dan pandangan pada Ayah. Ku hampiri Ayah.

“Ayah liaat ? Dimana-Dimana ?” Tanyaku tak sabar.

Ayah mengacuhkan ku. Dan mengambil Koran disamping rotinya itu. Lalu dibacanya.

“Ayaaahh.. Dimanaaaa ?” Tanyaku manja. :P

Tetep. Ayah tetap cuek padaku. Seakan Ayah tak mendengarku. Yayaya.. aku tahu maksud Ayah. :[

“Iyaa.. iyaa. Mila ga akan mengulangi lagi.. Mila merasa bersalah…” Ucapku bersalah. @_@

Ayah tetap asik dengan korannya.

“Ayaaahh.. ko gitu..? khan  Mila udah ngaku salah..” Tanyaku lagi. Yang ini terlihat lebih manja.

“Kalau punya salah dan mengakui kesalahan. Mila harus bilang apa ??” Tanya ayah dengan nada Cuek.

“Mila mintaa ma’af..” jawabku menunduk.

“Terus… apa lagi ..?” Tanya Ayah mnegujiku.

“Mila ga akan mengulangi lagi dehh cuekin Ayaaahh..”

“Bener nih ..?”

“Iya..”

“Masaaa.. ?”

“Bener Ayaaahh..”

“Percaya ga yaah.. ?” ;p

“Ayah gituuu.. tauu ahh ..” Jawabku ketus. ;[

Dan akhirnya aku yang kesal.

“Iyaa dehh .. Ayah kasih tau..” :D

“Dimanaa - Dimanaaa ?”  Jawabku yang benar-benar tak sabar.

“Di tempat kesukaan Ibu..” Jawab ayah singkat.

Aku berfikuir sejenak. Memutar balik otak ku. Ahaa !!! aku langsung menuju dapur. Ku lihat sekeliling dengan cermat. Tetap tak ada. Ibu pun menghampiri. :?

“Cari apa Mil.. ? ko belum pakai sepatu ? katanya ga mau telaat..?” Tanya ibu sambil memegang pundakku. Aku terdiam. Kesaal. Kesaaaaall sekali. ;/

“Ibu liat sepatu Mila gaa ?” Tanya ku ketus.
“Loh.. kan Mila simpan di bawah tempat tidur..?” Tanya Ibu heran. :?

“Tau tuuhh Ayaaahh.. Jail banget ke Milaa.. sepatu Mila di umpetin.” Jawabku mengadu.

Ibu memabawaku pada Ayah yang sudah siap pergi bekerja.

“Ayah.. mana sepatu Milaa..? nanti Mila telat.” Tanya Ibu lembut seperti biasa.

“Ayah simpan di tempat kesukaan Ibu.” Jawab Ayah polos.

“Tadi Mila cari ke dapur ko ga ada ?” Sambungku.

“Yakin di dapuuur ??” Tanya Ayah manja.

Aku terdiam. Berfikir. Aku pandang wajah ibu yang lelah dari tadi. Karna sibuk menyiapkan semua keperluan aku dan Ayah. Ahaaa..!! aku tahuu..! Dan aku yakin dengan tempat ini. Aku berlari kecIl menuju halaman rumah. Ku cari di sela-sela pot yang tertata dengan rapi. Ya, halaman ini penuh dengan tumbuhan. Ibu selalu kesini jika ia ingin melepas kelelahan. Tempat ini selalu ibu kunjungi. ;)

“Ini diaaa..!” Teriak kuu. ;0

Aku berlari kedalam rumah bersama kotak coklat. Aku menemukannya..! Teriak hatiku. Ayah hanya tersenyum dan mengusap kepalaku dan berkata ‘anak cerdas’. Aku senang dengan perlakuan itu. Itu salah satu hal yang aku suka dari Ayah. Ibukupun ikut tersenyum. Aku buka kotak itu. Ini diaaa ..! serontak hatiku merespon. Langsung ku ambil kaos kaki putih dengan corak Mickey dan Minnie Mouse. Aku suka Cartoon Disney.
Aku langsung saja memakai kaos kaki itu. Lalu aku ambil sepatu model balet yang berwarna merah. MERAH !!! aku suka. Sepatu merah dengan corak kupu-kupu. Sungguh nyaman. Aku ambil tas punggung ku yang berwarna pink yang bergambar  sama kaos kaki ku. Sebenarnya aku tak suka dengan warna pinknya. Tapi.. hanya warna itu yg bergambarkan Mickey dan Minnie Mouse. Huh.. biarlah.. :(
Ibu ku langsung memasang bondu merah dan coklat. Sungguh cantiknya aku kata ibu. Aku semangat sekali. Untuk mengawali hari pertamaku sekolah. Walaupun masih TK.
Ayah ibu pergi ke kantor. Ibuku siap mengantarku menuju sebuah sekolah baruku. Tak jauh dari rumahku. Eh.. lumayan jauh sih kata teman-teman.. :P

“Bu.. sekarang jam berapa..?” Tanyaku cemas lagi.

“Mau jam delapan .. lima belas menit lagi..” jawab Ibu santai sambil mengajakku berangkat.

‘Oh… tidaaaakk ..!’  kecewa ku. ;?

Ibu langsung mengeluarkan motor. Aku heran. Bukankah sekolahnya dekat.. :?

“Bu, kita naik motor ?”
“Iya.. Mil ..”

“Kenapa bu, kan sekolahnya dekat kata ibu.

“Kita telat Mil, kamu mau hari pertama sekolahmu telat ?”

Aku menurut saja. Dan hal ini lagi yang membuatku semakin menyukai Ibu. Ibu selain lemah lembut, bisa menjadi perkasa lohh..

I LOVE MOM .. :D


:D :D :D :D :D

Senyuman

SENYUMAN ..  :)

“Emang tau, dia mah orangnya tuh nyebelin banget. Gak mau ngalah tau!
udah ahh.. ga usah di temenin dia mah !!” Gumam Handri pelan padaku. Aku pun terbawa emosi dengan ucapan Handri :(
Ku pandang lekat-lekat wajah anak perempuan sebaya yang berada di sebrangku dan Handri. Yayaya.. Anak itu manis, rambutnya terurai panjang lurus hingga punggung. Rambut yang agak tebal itu membuat mukanya semakin tampak lebih manis. Apalagi ditambah dengan poni yang panjangnya se-alis. Namun sayang.. tak banyak anak-anak yang mau bermain dengannya. Mungkin karna anak itu terlihat sombong dan egois. Itu alasan yang ku dengar dari teman-teman bermainku. :|.
Aku berumur empat tahun ketika itu. Aku belum sekolah. Tapi aku ingin sekali sekolah. Namun ibuku tak memperbolehkan, karna umurku yang masih terlalu anak-anak. Dan ibu selalu berkata ketika aku sedang merengek ingin sekolah. inilah katanya..
“kalau mau sekolah itu, umurnya harus sudah lima tahun dulu.. tunggu satu tahun lagi yaa..
oh iya.. ibu punya kue di lemari. Mila mau gak ? kalau mau ambil taperwer kuenya kesini. Sama ibu nanti di bagi..” huh .. selalu saja. Akhirnya ibu berhasil mengalihkan pembicaraan. Dan entah mengapa pada saat itu, cara ibu mengalihkan pembicaraanya selau mempan padaku. Masa-masa kecil memang terlalu mudah di pengaruhi. Mila kecil memang masih kecil. Masih hanya bisa mengadu. Mila.. Mila ..
Kembali pada topik sebelumnya. Mengenai anak manis yang berada di sebrangku dan Handri itu. Aku terpaku menatapnya. Dan akhirnya..
“Mila, ayo ah pergi dari dia ! aku mah gak mau deketan sama dia !” ucap Handri pelan pelan lagi padaku. Aku terdiam dengan memasang wajah BELAGU pada anak sombong itu.
Sebenarnya aku kasihan pada anak berambut panjang yang berada di sebrang kami  itu. Tapi Handri selalu mempengaruhiku untuk menjauhi anak itu. Yaaa.. aku sih menurut saja. Karna hanya Handri teman dekat ku pada saat itu.
Aku dan Handri pun menjauhi dia. Anak yang memiliki rambut indah itupun pulang dengan wajah yang sangat kesal padaku dan Handri. Rumahnya sangat dekat dengan rumahku dan Handri. Hanya berbeda dua rumah. Kalau aku dan Handri sih rumahnya saling berhadapan.jadi kami sering bermain bersama. Ibuku pun dekat dengan Ibu Handri. Dan terkadang, bilamana ibuku pergi, aku selalu dititipkan di keluarga Handri. Jadi Handri sudah aku anggap saudara sendiri. Kami selalu berbagi dengan apa yang kami punya. Apakah itu makanan atau mainan. Kami suka berbagi.
Tapi berbeda dengan anak yang berambut panjang itu. Aku masih ingat cerita dari temanku Atep. Dia yang banyak lebih tau tentang anak perempuan itu di bandingkan kami berdua. Karna rumahnya berdampingan dengan rumah anak itu.
Atep bercerita “Dia mah bener-bener egois. Pengen menang sendiri. Waktu itu aja aku lagi diam di teras rumahku. Aku melihat si Noni lagi rebutan mainan sama sodaranya. Sampai-sampai mainannya rusak! Eh, si Noninya nangis.. terus ngadu sama ‘abahnya’ kalau sodaranya yang ngerusak. Padahal aku ngeliat yang ngerusak mainannya itu adalah si Noni. Bukan sodaranya, tapi dasar anak itu nyebelin. Malah nuduh ke sodaranya. !!” ;/
Aku dan Handri hanya terbawa emosi  dengan cerita Atep itu. Aku tak tahu apakah Atep berbohong atau tidak. Tapi yang aku tau pada saat itu. Cerita Atep mempengaruhi aku.
Esoknya seperti biasa. Handri ‘menyamper’ aku. Akupun yang sudah mandi dan sarapan langsung berlari menuju pintu keluar. Dengan menggunakan sandal merah favoritku. Handri yang diam di pagar rumahku pun tampak ingin cepat-cepat memperlihatkan sesuatu padaku. Aku menghampirinya. Diapun memperlihatkan tangannya yang sedang berposisi di kepal. Aku penasaran dengan sesuatu yang di kepalnya. “Apa ya ? ih.. apaan sih ? penasaran !” ucap hatiku. Lalu di bukalah kepalan tangannya. Tampaklah sebuah benda. Tak hidup. Tapi cukup menarik untuk di pandang. Sebuah benda berwarna hijau, kecil, lonjong dan berduri. Tampak seperti binatang kecil. Tapi ini bukan binatang. Hanya sebuah benda. Ku pandangi lekat-lekat benda itu. Seperti melihat benda yang menakjubkan, begitu menarik. Begitu ada rasa ingin memiliki.
“Eitz.. buat aku ..!!” Tiba-tiba Noni mengambil dari telapak tangan Handri. Aku terkejut dengan tingkah laku Noni yang merebut benda itu. :/

“ ih..! sini-in ..!! Dasar Maling..!” Suara Handri yang mulai kesal.
Noni pun membalas ucapan Handri  ;[

“ Udah jadi milik akuu.. ! gat au aahh.. dadaaahh..!” :p

Noni pun berlari kencang dengan rambut terurainya. sekilas tampak  seperti iklan shampo. Tapi kekagumanku pada rambutnya sirna sudah dengan tingkah dia yang membuatku ingin meledak. Ini adalah pertama kalinya aku sungguh kesal pada Noni. Spontan aku menangis.. tangisku semakin kencang. Dan itu sedikit membuat kekesalan ini mereda. Ibuku yang sedang sibuk memasak pun langsung menghampiri aku. Ku ingat ketika ibu berusaha menenangkan aku, begitu benar-benar penuh kasih sayang dan kesabaran. Didalam pelukan ibu, sungguh merasa nyaman dan tentram.
Handri menatapku, hanya menatapku dengan wajah kebingungan. Terdiam di sampingku. Ibu tiba di sampingku. Membawaku menuju ruang tamu. Handri mengikuti.

“Mila, kamu kenapa sayang..? sama Handri..?”
Tanya ibu lembut setelah aku terlihat tenang. Aku menggeleng. Memberi isyarat bahwan Handri bukan biang keladi dari semua ini.

“Terus.. Mila kenapa nangis..? ibu kaget ..” sambung ibu.
Aku dan Handri terdiam. Handri yang duduk di hadapanku pun hanya terus menatapku. Aku sibuk menghapus air mata. Ibu yang duduk di sampingku bertanya pada Handri.

“Handri, Mila kenapa..?”

Handri yang sejak tadi membisupun bersuara. Menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan cara dia bercerita. Dengan cara anak kecIl. Tak ada yang di lebihkan atau dikurangi. Dan akhirnya ibupun mengerti. Setelah Handri selesai bercerita. Ibu hanya tersebyum padaku dan Handri. Hanya tersenyum lembut. Aku bingung dengan reaksi ibu. Hanya tersenyum ? tidak marah ? huh.. :(

“Lain kali, mainnya ajak Noni yaa La.. jadi Noninya gak akan begini lagi.” Ucap ibu santai. :)
Hanya kalimat itu yang ibu nasehatkan. Hanya kalimat itu. Aku bingung. Bengong. Sedikit menampakan wajah orang dongo. Tapi masih untung hanya teman ku Handri yang dapat melihat ekspresi wajah dongoku. Dan Handri hanya menatap wajahku yang kosong ini.
:|.

‘tok..tok..tok.. Assalamua’alaikum..’   :)

Kekosongan pun terpecahkan oleh kedatangan tamu itu. Pintu rumahku tak tertutup. Di ‘Lawang pintu’ terlihat sosok yang tak begitu asing. Anak perempuan sebayaku. Dengan ciri khas rambutnya yang mirip dengan iklan-iklan shampo itu. Benar, Noni. Anak perempuan yang membuatku menangis. Noni tak sendiri, ibunya disamping dia. Sambil membawa sebuah taperwer makanan. Yang sudah pasti isinya makanan. Ibuku yang sedang duduk langsung menghampiri mereka. Dan mempersilahkan duduk. Di hadapanku mereka duduk. Ibukupun meminta izin kepada Noni dan ibunya untuk di tinggal sebentar. Ibu segera menuju dapur dan menyiapkan minuman. Dua gelas di isi sirup ibu bawa kembali. Di tata gelas itu tepat di hadapan Noni dan Ibunya. Ibu duduk disampingku lagi.

Ibu Noni pun mulai bersuara.

“Aduuuhh.. ibu, saya malah jadi ngerepotin”

“ga apa-apa ibu, lagian cuman ala kadarnya” balas ibuku.

Ibu Noni pun langsung menjelaskan alasan kedatangannya ke rumah ku.

“jadi gitu ibu. Saya benar-benar minta maaf ulah Noni yang begitu nakal. Saya pun lelah harus bagaimana dengan putri saya ini Noni.”

“Namanya juga anak-anak bu, sudah biasa..”

“Makasih ya buu.. Mila, gak apa-apa kan ?” Tanya ibu Noni padaku.

Aku menggeleng kepala dengan wajah ‘so imut’. :P

“ini.. mamah Noni punya  kue buat Mila.” Lanjutnya.

Ibu Noni menyodorkan taperwer itu padaku. Taperwer berwarna Merah Fanta. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dan yang menarik dari taperwer itu adalah corak simple yang ellegan. Padu padan warna yang cocok. Hitam-Merah-Coklat. Persis warna kesukaanku.

Aku raih taperwer itu dari tangan Ibu Noni.

“Bilang apa Kalau dikasih..?” Tanya Ibuku.

“Makaassiihhh…” jawabku dengan tingkah malu-malu.   :)

“sama-sama Mila..” Jawab Ibu Noni penuh goda.

“Ya sudaahh bu, saya pamit pulang dulu. trima kasih ya bu..” sambung Ibu Noni lagi.

“ eh.. saya loh yang harusnya mengucapkan trima kasih.. udah ngerepotin ibu.”

“aduuhh bu, saya ga ngerasa ngerepotin ko, justru saya yang selalu merepotkan.”

Dan bla bla bla bla blaaa…. Perbincangan itu tak henti. Dan perbincangan itu telah membawa ibu Noni dan ibuku sampai depan pintu.
Ku lihat, mereka masih berbincang-bincang. Perbincangan kaum ibu-ibu. :0

Akupun menggeser pandanganku pada Noni. Gadis itu duduk di hadapanku. Menatapku dengan tatapan penuh isyarat. Handri yang duduk disampingku bolak-balik memandang kepadaku dan pada Noni. ‘ada apa ini?’ mungkin itu pertanyaan yang tersirat dalam diri Handri.
:|.

“Maafkan aku yaah ?” Suara Noni memecahkan keheningan diantara kami.
Sebelum aku menjawabnya, ku alihkan pandanganku pada ibuku yang masih asik berbincang-bincang. Lalu ku alihkan lagi pandanganku pada Noni. Aku tak tahu apa maksudku tadi. Mengapa aku pandang ibuku terlebih dulu. Sepintas aku pun teringat ucapan ibu tadi. Ketika memberi isyarat dengan senyumannnay yang lembut. Mungkin ibu benar ? ohh.. tidaakk.. ! ibu pasti benar. Noni ingin di ajak bermain.   ;)

”Kenapa ? ga mau maafin Noni ?? yaaaa.. sudah deh . ga apa-apa..” Tanya Noni lagi.
Alasan dia bertanya lagi mungkin karna aku dari tadi tak merespon apa yang dia tanyakan. Noni pun mengulurkan tangannya, mengajak untuk ber-DAMAI. Aku sempat KAGET dengan uluran tangannya. Butuh keberanian tinggi untuk meminta maaf di usia kami. Aku tatap wajah Noni. Dan Handri masih kebingungan dengan apa yang dia saksikan. Aku raih tangannya. KAMI BERSALAMAN. Menandakan kami tak punya dendam. Kami ber-TEMAN. Atauu.. bisa jadi kami ber-SAHABAT. Aku memberi senyuman manisku pada Noni. Dan ia membalasnya. :D
Ya Ampuuunn..! pertama kali ku lihat gadis berambut iklan shampoo itu tersenyum. Manis. Manis sekali. Aku akui itu.
Rasanya ingin memiliki senyuman manis itu. Tapi sayangnya, dia tak mempunyai lesung pipi sepertiku. Tapi tetap dia manis. Kami bersalaman. Saling memberikan senyuman terindah yang kami miliki. :) :)
Aku mengalihkan pandanganku pada Handri dari pandanganku pada senyuman Noni. Ku lihat Handri ikut tersenyum. Wajahnya berbeda sekali dengan wajah yang terakhir ku lihat. Sudah tak bingung. Berarti  dia sudah mengerti apa yang terjadi di ruang tamu itu. Aku dan Noni pun berakhir bersalaman. Lalu bersalaman kembali terjadi. Tapi ini terjadi antara Handri dan Noni. Handri yang terlebih dahulu mengajak bersalaman. Dan sekarang Noni yang meraihnya. Tetapi ada yang berbeda dengan jabat tangan ini. Ada yang ANEH ? ku lihat wajah Handri sempat memerah. Aku mengerti. Aku mengerti. Yaya.. aku mengerti. :D
Babak berjabat tangan pun selesai. Berakhir. Sepintas ku lihat pada ibuku. Hanya sepintas. Lalu mendaratkan kembali pandanganku di antara kami bertiga. Tapii.. seperti ada yang aneh ?? apa yaa ..? aku cepat kembali menoleh pada ibuku. Dan ku lihat ibuku dan ibu Noni sedang memandang kami dengan senyuman-senyuman itu. Senyuman ibu. Hangat dan lembut seperti biasanya. Tapi senyuman itu terlihat senyuman ibu yang bangga pada anaknya. Aku tahu maksud senyum ibu. Dan aku senang dengan senyuman itu. :)


 :)   :)   :)   :)   :)