Jumat, 19 November 2010

Senyuman

SENYUMAN ..  :)

“Emang tau, dia mah orangnya tuh nyebelin banget. Gak mau ngalah tau!
udah ahh.. ga usah di temenin dia mah !!” Gumam Handri pelan padaku. Aku pun terbawa emosi dengan ucapan Handri :(
Ku pandang lekat-lekat wajah anak perempuan sebaya yang berada di sebrangku dan Handri. Yayaya.. Anak itu manis, rambutnya terurai panjang lurus hingga punggung. Rambut yang agak tebal itu membuat mukanya semakin tampak lebih manis. Apalagi ditambah dengan poni yang panjangnya se-alis. Namun sayang.. tak banyak anak-anak yang mau bermain dengannya. Mungkin karna anak itu terlihat sombong dan egois. Itu alasan yang ku dengar dari teman-teman bermainku. :|.
Aku berumur empat tahun ketika itu. Aku belum sekolah. Tapi aku ingin sekali sekolah. Namun ibuku tak memperbolehkan, karna umurku yang masih terlalu anak-anak. Dan ibu selalu berkata ketika aku sedang merengek ingin sekolah. inilah katanya..
“kalau mau sekolah itu, umurnya harus sudah lima tahun dulu.. tunggu satu tahun lagi yaa..
oh iya.. ibu punya kue di lemari. Mila mau gak ? kalau mau ambil taperwer kuenya kesini. Sama ibu nanti di bagi..” huh .. selalu saja. Akhirnya ibu berhasil mengalihkan pembicaraan. Dan entah mengapa pada saat itu, cara ibu mengalihkan pembicaraanya selau mempan padaku. Masa-masa kecil memang terlalu mudah di pengaruhi. Mila kecil memang masih kecil. Masih hanya bisa mengadu. Mila.. Mila ..
Kembali pada topik sebelumnya. Mengenai anak manis yang berada di sebrangku dan Handri itu. Aku terpaku menatapnya. Dan akhirnya..
“Mila, ayo ah pergi dari dia ! aku mah gak mau deketan sama dia !” ucap Handri pelan pelan lagi padaku. Aku terdiam dengan memasang wajah BELAGU pada anak sombong itu.
Sebenarnya aku kasihan pada anak berambut panjang yang berada di sebrang kami  itu. Tapi Handri selalu mempengaruhiku untuk menjauhi anak itu. Yaaa.. aku sih menurut saja. Karna hanya Handri teman dekat ku pada saat itu.
Aku dan Handri pun menjauhi dia. Anak yang memiliki rambut indah itupun pulang dengan wajah yang sangat kesal padaku dan Handri. Rumahnya sangat dekat dengan rumahku dan Handri. Hanya berbeda dua rumah. Kalau aku dan Handri sih rumahnya saling berhadapan.jadi kami sering bermain bersama. Ibuku pun dekat dengan Ibu Handri. Dan terkadang, bilamana ibuku pergi, aku selalu dititipkan di keluarga Handri. Jadi Handri sudah aku anggap saudara sendiri. Kami selalu berbagi dengan apa yang kami punya. Apakah itu makanan atau mainan. Kami suka berbagi.
Tapi berbeda dengan anak yang berambut panjang itu. Aku masih ingat cerita dari temanku Atep. Dia yang banyak lebih tau tentang anak perempuan itu di bandingkan kami berdua. Karna rumahnya berdampingan dengan rumah anak itu.
Atep bercerita “Dia mah bener-bener egois. Pengen menang sendiri. Waktu itu aja aku lagi diam di teras rumahku. Aku melihat si Noni lagi rebutan mainan sama sodaranya. Sampai-sampai mainannya rusak! Eh, si Noninya nangis.. terus ngadu sama ‘abahnya’ kalau sodaranya yang ngerusak. Padahal aku ngeliat yang ngerusak mainannya itu adalah si Noni. Bukan sodaranya, tapi dasar anak itu nyebelin. Malah nuduh ke sodaranya. !!” ;/
Aku dan Handri hanya terbawa emosi  dengan cerita Atep itu. Aku tak tahu apakah Atep berbohong atau tidak. Tapi yang aku tau pada saat itu. Cerita Atep mempengaruhi aku.
Esoknya seperti biasa. Handri ‘menyamper’ aku. Akupun yang sudah mandi dan sarapan langsung berlari menuju pintu keluar. Dengan menggunakan sandal merah favoritku. Handri yang diam di pagar rumahku pun tampak ingin cepat-cepat memperlihatkan sesuatu padaku. Aku menghampirinya. Diapun memperlihatkan tangannya yang sedang berposisi di kepal. Aku penasaran dengan sesuatu yang di kepalnya. “Apa ya ? ih.. apaan sih ? penasaran !” ucap hatiku. Lalu di bukalah kepalan tangannya. Tampaklah sebuah benda. Tak hidup. Tapi cukup menarik untuk di pandang. Sebuah benda berwarna hijau, kecil, lonjong dan berduri. Tampak seperti binatang kecil. Tapi ini bukan binatang. Hanya sebuah benda. Ku pandangi lekat-lekat benda itu. Seperti melihat benda yang menakjubkan, begitu menarik. Begitu ada rasa ingin memiliki.
“Eitz.. buat aku ..!!” Tiba-tiba Noni mengambil dari telapak tangan Handri. Aku terkejut dengan tingkah laku Noni yang merebut benda itu. :/

“ ih..! sini-in ..!! Dasar Maling..!” Suara Handri yang mulai kesal.
Noni pun membalas ucapan Handri  ;[

“ Udah jadi milik akuu.. ! gat au aahh.. dadaaahh..!” :p

Noni pun berlari kencang dengan rambut terurainya. sekilas tampak  seperti iklan shampo. Tapi kekagumanku pada rambutnya sirna sudah dengan tingkah dia yang membuatku ingin meledak. Ini adalah pertama kalinya aku sungguh kesal pada Noni. Spontan aku menangis.. tangisku semakin kencang. Dan itu sedikit membuat kekesalan ini mereda. Ibuku yang sedang sibuk memasak pun langsung menghampiri aku. Ku ingat ketika ibu berusaha menenangkan aku, begitu benar-benar penuh kasih sayang dan kesabaran. Didalam pelukan ibu, sungguh merasa nyaman dan tentram.
Handri menatapku, hanya menatapku dengan wajah kebingungan. Terdiam di sampingku. Ibu tiba di sampingku. Membawaku menuju ruang tamu. Handri mengikuti.

“Mila, kamu kenapa sayang..? sama Handri..?”
Tanya ibu lembut setelah aku terlihat tenang. Aku menggeleng. Memberi isyarat bahwan Handri bukan biang keladi dari semua ini.

“Terus.. Mila kenapa nangis..? ibu kaget ..” sambung ibu.
Aku dan Handri terdiam. Handri yang duduk di hadapanku pun hanya terus menatapku. Aku sibuk menghapus air mata. Ibu yang duduk di sampingku bertanya pada Handri.

“Handri, Mila kenapa..?”

Handri yang sejak tadi membisupun bersuara. Menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan cara dia bercerita. Dengan cara anak kecIl. Tak ada yang di lebihkan atau dikurangi. Dan akhirnya ibupun mengerti. Setelah Handri selesai bercerita. Ibu hanya tersebyum padaku dan Handri. Hanya tersenyum lembut. Aku bingung dengan reaksi ibu. Hanya tersenyum ? tidak marah ? huh.. :(

“Lain kali, mainnya ajak Noni yaa La.. jadi Noninya gak akan begini lagi.” Ucap ibu santai. :)
Hanya kalimat itu yang ibu nasehatkan. Hanya kalimat itu. Aku bingung. Bengong. Sedikit menampakan wajah orang dongo. Tapi masih untung hanya teman ku Handri yang dapat melihat ekspresi wajah dongoku. Dan Handri hanya menatap wajahku yang kosong ini.
:|.

‘tok..tok..tok.. Assalamua’alaikum..’   :)

Kekosongan pun terpecahkan oleh kedatangan tamu itu. Pintu rumahku tak tertutup. Di ‘Lawang pintu’ terlihat sosok yang tak begitu asing. Anak perempuan sebayaku. Dengan ciri khas rambutnya yang mirip dengan iklan-iklan shampo itu. Benar, Noni. Anak perempuan yang membuatku menangis. Noni tak sendiri, ibunya disamping dia. Sambil membawa sebuah taperwer makanan. Yang sudah pasti isinya makanan. Ibuku yang sedang duduk langsung menghampiri mereka. Dan mempersilahkan duduk. Di hadapanku mereka duduk. Ibukupun meminta izin kepada Noni dan ibunya untuk di tinggal sebentar. Ibu segera menuju dapur dan menyiapkan minuman. Dua gelas di isi sirup ibu bawa kembali. Di tata gelas itu tepat di hadapan Noni dan Ibunya. Ibu duduk disampingku lagi.

Ibu Noni pun mulai bersuara.

“Aduuuhh.. ibu, saya malah jadi ngerepotin”

“ga apa-apa ibu, lagian cuman ala kadarnya” balas ibuku.

Ibu Noni pun langsung menjelaskan alasan kedatangannya ke rumah ku.

“jadi gitu ibu. Saya benar-benar minta maaf ulah Noni yang begitu nakal. Saya pun lelah harus bagaimana dengan putri saya ini Noni.”

“Namanya juga anak-anak bu, sudah biasa..”

“Makasih ya buu.. Mila, gak apa-apa kan ?” Tanya ibu Noni padaku.

Aku menggeleng kepala dengan wajah ‘so imut’. :P

“ini.. mamah Noni punya  kue buat Mila.” Lanjutnya.

Ibu Noni menyodorkan taperwer itu padaku. Taperwer berwarna Merah Fanta. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dan yang menarik dari taperwer itu adalah corak simple yang ellegan. Padu padan warna yang cocok. Hitam-Merah-Coklat. Persis warna kesukaanku.

Aku raih taperwer itu dari tangan Ibu Noni.

“Bilang apa Kalau dikasih..?” Tanya Ibuku.

“Makaassiihhh…” jawabku dengan tingkah malu-malu.   :)

“sama-sama Mila..” Jawab Ibu Noni penuh goda.

“Ya sudaahh bu, saya pamit pulang dulu. trima kasih ya bu..” sambung Ibu Noni lagi.

“ eh.. saya loh yang harusnya mengucapkan trima kasih.. udah ngerepotin ibu.”

“aduuhh bu, saya ga ngerasa ngerepotin ko, justru saya yang selalu merepotkan.”

Dan bla bla bla bla blaaa…. Perbincangan itu tak henti. Dan perbincangan itu telah membawa ibu Noni dan ibuku sampai depan pintu.
Ku lihat, mereka masih berbincang-bincang. Perbincangan kaum ibu-ibu. :0

Akupun menggeser pandanganku pada Noni. Gadis itu duduk di hadapanku. Menatapku dengan tatapan penuh isyarat. Handri yang duduk disampingku bolak-balik memandang kepadaku dan pada Noni. ‘ada apa ini?’ mungkin itu pertanyaan yang tersirat dalam diri Handri.
:|.

“Maafkan aku yaah ?” Suara Noni memecahkan keheningan diantara kami.
Sebelum aku menjawabnya, ku alihkan pandanganku pada ibuku yang masih asik berbincang-bincang. Lalu ku alihkan lagi pandanganku pada Noni. Aku tak tahu apa maksudku tadi. Mengapa aku pandang ibuku terlebih dulu. Sepintas aku pun teringat ucapan ibu tadi. Ketika memberi isyarat dengan senyumannnay yang lembut. Mungkin ibu benar ? ohh.. tidaakk.. ! ibu pasti benar. Noni ingin di ajak bermain.   ;)

”Kenapa ? ga mau maafin Noni ?? yaaaa.. sudah deh . ga apa-apa..” Tanya Noni lagi.
Alasan dia bertanya lagi mungkin karna aku dari tadi tak merespon apa yang dia tanyakan. Noni pun mengulurkan tangannya, mengajak untuk ber-DAMAI. Aku sempat KAGET dengan uluran tangannya. Butuh keberanian tinggi untuk meminta maaf di usia kami. Aku tatap wajah Noni. Dan Handri masih kebingungan dengan apa yang dia saksikan. Aku raih tangannya. KAMI BERSALAMAN. Menandakan kami tak punya dendam. Kami ber-TEMAN. Atauu.. bisa jadi kami ber-SAHABAT. Aku memberi senyuman manisku pada Noni. Dan ia membalasnya. :D
Ya Ampuuunn..! pertama kali ku lihat gadis berambut iklan shampoo itu tersenyum. Manis. Manis sekali. Aku akui itu.
Rasanya ingin memiliki senyuman manis itu. Tapi sayangnya, dia tak mempunyai lesung pipi sepertiku. Tapi tetap dia manis. Kami bersalaman. Saling memberikan senyuman terindah yang kami miliki. :) :)
Aku mengalihkan pandanganku pada Handri dari pandanganku pada senyuman Noni. Ku lihat Handri ikut tersenyum. Wajahnya berbeda sekali dengan wajah yang terakhir ku lihat. Sudah tak bingung. Berarti  dia sudah mengerti apa yang terjadi di ruang tamu itu. Aku dan Noni pun berakhir bersalaman. Lalu bersalaman kembali terjadi. Tapi ini terjadi antara Handri dan Noni. Handri yang terlebih dahulu mengajak bersalaman. Dan sekarang Noni yang meraihnya. Tetapi ada yang berbeda dengan jabat tangan ini. Ada yang ANEH ? ku lihat wajah Handri sempat memerah. Aku mengerti. Aku mengerti. Yaya.. aku mengerti. :D
Babak berjabat tangan pun selesai. Berakhir. Sepintas ku lihat pada ibuku. Hanya sepintas. Lalu mendaratkan kembali pandanganku di antara kami bertiga. Tapii.. seperti ada yang aneh ?? apa yaa ..? aku cepat kembali menoleh pada ibuku. Dan ku lihat ibuku dan ibu Noni sedang memandang kami dengan senyuman-senyuman itu. Senyuman ibu. Hangat dan lembut seperti biasanya. Tapi senyuman itu terlihat senyuman ibu yang bangga pada anaknya. Aku tahu maksud senyum ibu. Dan aku senang dengan senyuman itu. :)


 :)   :)   :)   :)   :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar